Jika sepatu robek dan tak ada uang untuk membelinya,
lihatlah diluar sana betapa banyak anak yang berjalan tanpa alas kaki setiap
hari (ngeliat sepatu).
Bercerita tentang sepatu ada sebuah kisah haru tentang
sosok, tokoh bangsa ini, tentang sepatu Bally Bung Hatta. Pada tahun 1950-an
sepatu Bally adalah merk sepatu yang bermutu tinggi dan tidak murah. Wakil
presiden pertama dan tokoh proklamator kemerdekaan ini berminat kepada sepatu
Bally tersebut. Hingga ia menggunting iklan yang memuat alamat penjualnya dan
menyimpannya. Lalu beliau menabung untuk membelinya, tapi sepertinya uangnya
tak pernah cukup untuk bisa membeli sepatu idamannya, karna uang tabungannya
selalu terambil untuk kebutuhan rumah tangga serta untuk membantu kerabat dan
handai taulan yang datang untuk meminta pertolongan.
Hingga akhir hayatnya beliau tak pernah bisa membeli sepatu
tersebut karna tabungannya tak pernah mencukupi. Yang sangat mengharukan,
guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi
saksi keinginan sederhana dari Bung Hatta. Padahal melihat posisinya saat itu
rasanya teramat mudah untuk mendaptkan sepatu Bally tersebut. Misalnya dengan
meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.
“Namun, di sinilah
letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan
sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata
gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,”.
Dalam kesederhanaan
justru hidup akan terlihat indah, kesederhanaan itu bangunan mental
bukan tuntutan keadaan. Sederhana mampu
mengikis angkuh menghaluskan perasaan.
Bagaimana dengan kita hari ini, adakah yang merasa hina
dengan kemiskinan atau yang merasa mulia dengan kekayaan. Perlu berapa uang
untuk merasa kaya?. Miskin dan kaya adalah masalah tentang merasa cukup, orang
islam tak boleh miskin.
Bagaimana dengan kita hari ini (*intropeksi diri sendiri).
Bung Hatta hanya segelintir kisah, bagaiamana dengan kesederhanaan rasulullah
dan para sahabatnya. Mungkin kita akan menangis membaca atau mendengarnya dan
malu betapa “menumpuk harta” adalah suatu kehinaan.
Inginkanlah sesuatu karna itu bisa jadi pemicu semangat
dalam hidup ini. Tapi keinginan jangan sampai merusak batas butuh dan batas
kesederhanaan.
Kesederhanaan bisa jadi pemicu namamu lebih dikenal “penduduk
langit” ketimbang penduduk bumi.
Sebagai penutup syair lagu dari iwan fals (bung hatta) tentang
betapa berwibawanya kesederhanaan itu:
Tuhan, terlalu cepat semua kau panggil satu2nya
Yang tersisa proklamator tercinta
Jujur lugu dan bijaksana mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Untuk Indonesia
Hujan air mata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu
Terbayang batinmu
Terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa Sederhanamu
Bernisan Bangga
Berkafan Do'a dari kami yang merindukan orang sepertimu
Hujan air mata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu
Yang tersisa proklamator tercinta
Jujur lugu dan bijaksana mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Untuk Indonesia
Hujan air mata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu
Terbayang batinmu
Terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa Sederhanamu
Bernisan Bangga
Berkafan Do'a dari kami yang merindukan orang sepertimu
Hujan air mata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar