Selasa, 21 Januari 2014

Terinspirasi Sepatu



Jika sepatu robek dan tak ada uang untuk membelinya, lihatlah diluar sana betapa banyak anak yang berjalan tanpa alas kaki setiap hari (ngeliat sepatu).

Bercerita tentang sepatu ada sebuah kisah haru tentang sosok, tokoh bangsa ini, tentang sepatu Bally Bung Hatta. Pada tahun 1950-an sepatu Bally adalah merk sepatu yang bermutu tinggi dan tidak murah. Wakil presiden pertama dan tokoh proklamator kemerdekaan ini berminat kepada sepatu Bally tersebut. Hingga ia menggunting iklan yang memuat alamat penjualnya dan menyimpannya. Lalu beliau menabung untuk membelinya, tapi sepertinya uangnya tak pernah cukup untuk bisa membeli sepatu idamannya, karna uang tabungannya selalu terambil untuk kebutuhan rumah tangga serta untuk membantu kerabat dan handai taulan yang datang untuk meminta pertolongan. 

Hingga akhir hayatnya beliau tak pernah bisa membeli sepatu tersebut karna tabungannya tak pernah mencukupi. Yang sangat mengharukan, guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari Bung Hatta. Padahal melihat posisinya saat itu rasanya teramat mudah untuk mendaptkan sepatu Bally tersebut. Misalnya dengan meminta tolong para duta besar atau pengusaha yang menjadi kenalan Bung Hatta.

 “Namun, di sinilah letak keistimewaan Bung Hatta. Ia tidak mau meminta sesuatu untuk kepentingan sendiri dari orang lain. Bung Hatta memilih jalan sukar dan lama, yang ternyata gagal karena ia lebih mendahulukan orang lain daripada kepentingannya sendiri,”.

Dalam kesederhanaan  justru hidup akan terlihat indah, kesederhanaan itu bangunan mental bukan tuntutan keadaan. Sederhana  mampu mengikis angkuh menghaluskan perasaan.

Bagaimana dengan kita hari ini, adakah yang merasa hina dengan kemiskinan atau yang merasa mulia dengan kekayaan. Perlu berapa uang untuk merasa kaya?. Miskin dan kaya adalah masalah tentang merasa cukup, orang islam tak boleh miskin. 

Bagaimana dengan kita hari ini (*intropeksi diri sendiri). Bung Hatta hanya segelintir kisah, bagaiamana dengan kesederhanaan rasulullah dan para sahabatnya. Mungkin kita akan menangis membaca atau mendengarnya dan malu betapa “menumpuk harta” adalah suatu kehinaan.

Inginkanlah sesuatu karna itu bisa jadi pemicu semangat dalam hidup ini. Tapi keinginan jangan sampai merusak batas butuh dan batas kesederhanaan. 

Kesederhanaan bisa jadi pemicu namamu lebih dikenal “penduduk langit” ketimbang penduduk bumi.

Sebagai penutup syair lagu dari iwan fals (bung hatta) tentang betapa berwibawanya kesederhanaan itu:

Tuhan, terlalu cepat semua kau panggil satu2nya
Yang tersisa proklamator tercinta
Jujur lugu dan bijaksana mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Untuk Indonesia


Hujan air mata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu

Terbayang batinmu
Terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa Sederhanamu

Bernisan Bangga
Berkafan Do'a dari kami yang merindukan orang sepertimu


Hujan air mata dari pelosok negeri saat melepas engkau pergi
Berjuta kepala tertunduk haru terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar